Kau Pun Tahu

alone child children close up
Photo by Matheus Bertelli on Pexels.com

Puisi oleh Acep Zamzam Noor

Kau pun tahu, tak ada lagi cinta
Dalam pengembaraanku
Bintang-bintang yang kuburu
Semua meninggalkanku
Lampu-lampu sepanjang jalan
Padam, semua rambu seakan
Menunjuk ke arah jurang

Kau pun tahu, tak ada lagi cinta
Dalam setiap ucapanku
Suara yang masih terdengar
Berasal dari kegelapan
Kata-kata yang kusemburkan
Menjadi asing dan mengancam
Seperti bunyi senapan

Kau pun tahu, tak ada lagi cinta
Dalam puisi-puisiku
Kota telah dipenuhi papan-papan iklan
Maklumat-maklumat ditulis orang
Dengan kasar dan tergesa-gesa
Mereka yang berteriak
Tak jelas maunya apa

Kau pun tahu, tak ada lagi cinta
Dalam doa-doaku
Aku sembahyang di comberan
Menjalani hidup tanpa keyakinan
Perempuan-perempuan yang kupuja
Seperti juga para pemimpin itu –
Semuanya tak bisa dipercaya

Kau pun tahu, tak ada lagi cinta
Di negeriku yang busuk ini
Pidato dan kentut sulit dibedakan
Begitu juga tertawa dan menangis
Mereka yang lelap tidur
Bangunnya pada kesiangan
Padahal ingin disebut pahlawan

Iklan

Pokoknya Jangan Mau!

Kebencian bisa sangat merusak.

Kalau kita baca berita di koran-koran terbitan luar negeri, khususnya negara-negara Barat, kita akan mudah menemukan baik liputan ataupun artikel tentang islamophobia. Sebagian tulisan itu menunjukkan gejala islamophobia yang terus meruyak, sementara sebagian yang lain, meski nggak seimbang, mencoba menetralisirnya.

man wearing black and white stripe shirt looking at white printer papers on the wall
Photo by Startup Stock Photos on Pexels.com

Kecenderungan phobia yang hampir sama juga bisa kita temukan di Indonesia. Tentu bukan islamophobia, sebab di sini Islam adalah agama yang dipeluk oleh mayoritas masyarakat, melainkan non-muslimphobia. Saya nggak tahu apa istilah yang tepat untuk menyebutnya, tapi sementara mari gunakan istilah ini.

Non-muslimphobia adalah sikap yang menunjukkan kekhawatiran berlebih terhadap keberadaan non-muslim, yang didasarkan pada asumsi bahwa mereka akan mendominasi umat Islam. Mereka khawatir non-muslim akan menguasai pemerintahan, memonopoli perekonomian, dan sebuah klise: memurtadkan umat Islam*.

♣♣♣

Kebencian adalah komoditas yang kini marak diternakkan di masyarakat. Masih ingat bagaimana Donald Trump, capres kontroversial dari Partai Republik, memenangkan Pemilu Amerika, atau Ahok, seheboh apa pun para pendukungnya membanggakan prestasinya, yang harus menerima kekalahan dalam Pilkada Jakarta?

Kita akan menemukan contoh yang banyak selain dari kedua tokoh itu, tentang betapa kebencian bisa sangat mempengaruhi persepsi masyarakat berkenaan dengan pribadi seseorang, mengkristalkannya menjadi fanatisme dan antipati, dan ujung-ujungnya membuat orang tersebut berhasil atau malah gagal dalam sebuah kompetisi.

Apa yang ingin saya share di sini adalah bahwa kebencian, atau secara umum emosi, bisa jauh lebih kuat dalam membentuk persepsi kita tentang sesuatu dibandingkan rasionalitas.

Rasionalitas meniscayakan pengetahuan yang cukup tentang sebuah obyek sekaligus kemampuan berpikir yang baik untuk menganalisisnya, sebelum seseorang bisa menyimpulkannya. Ini tentu kelewat rumit bagi mereka yang hidupnya sudah kadung ruwet dengan istri yang bawel dan uang belanjanya yang selalu kurang.

Di sisi lain, emosi nggak membutuhkan tahap-tahap njelimet itu. Siapa pun punya kemampuan dan kebebasan untuk suka atau nggak suka terhadap seseorang, tanpa merasa perlu mengenalinya terlebih dulu. Bahkan bisa saja ia suka atau nggak suka pada orang lain tanpa alasan, apalagi alasan yang rasional.

♣♣♣

Emosi kadang bisa sangat mengkhawatirkan, dan dampaknya bisa sangat merusak. Dalam konteks hukum, Surat Al-Maidah ayat 8 mewanti-wanti kita tentang hal ini.

“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi yang adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu berlaku tidak adil. Berbuat adillah, karena ia lebih mendekati ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Dalam membuat keputusan apa pun, ada baiknya kita kendalikan betul yang namanya emosi. Jangan sampai urusan yang mestinya diputus melalui pertimbangan akal sehat disabotase oleh emosi, yang seharusnya kita kunci di luar kamar.

Emosi sangat subyektif, ia bisa muncul tanpa mempertimbangkan apa pun. Seseorang bisa jatuh cinta tanpa perlu membuat pertimbangan terlebih dulu. Kalau mau jatuh cinta, ya jatuh cinta saja. Artifisial namanya kalau pakai pertimbangan segala.

Nah, Manteman, menghadapi tahun Pemilu ini, yuk pastikan segala yang akan kita ucapkan, ceramahkan, tulis di media sosial, atau share di grup-grup messanger adalah kenyataan, bukan hoax, fitnah, apalagi hasutan dan ujaran kebencian!

Nggak cuma berdosa, emosi yang biasa dilepas liar, tanpa tali pengikat yang kita sebut akal sehat, mudah terpancing olehnya. Kalau sudah seperti itu, jangankan pemimpin yang amanah, proses pemilihannya saja bisa-bisa amburadul.

Satu lagi. Kalau kita tahu ada pulitisi yang menggunakan cara-cara yang tampaknya simpatik tapi sebenarnya agitatif, hanya karena mereka sedang memperjuangkan kepentingan yang kita sulit memastikan, apakah itu demi rakyat atau nggak, jauhi!

Sudah berkali-kali kita dibodohi, jangan hanya diam!

 

*Klise bukan berarti nggak pernah terjadi, ya 🙂

Kita Bukan Mesin

Inisiatif nggak bisa muncul begitu saja.

Butuh latihan, dan latihannya itu nggak sebentar. Kalau kita menyuruh seseorang untuk punya inisiatif, lalu saat itu juga mengharapkannya berinisiatif melakukan sesuatu, paling-paling kita akan kecewa.

Kenapa? Sulit, kalau nggak mustahil.

 

group hand fist bump
Photo by rawpixel.com on Pexels.com

Inisiatif nggak cuma pemahaman atau kesadaran tapi juga kebiasaan, habit. Banyak orang yang tahu harus melakukan apa dalam situasi tertentu tapi dia lebih suka diam, sebab masabodoh dengan situasinya itu.

Inisiatiflah yang membedakan antara manusia dengan binatang atau mesin, kalau itu mereka miliki. Kalau nggak, ya sama saja. Bergerak hanya saat dipecut atau di-on-kan, dan berhenti hanya jika dipaksa demikian. Makhluk dengan inisiatif nggak begitu.

Itu yang seharusnya sih. Sebab nyatanya, banyak juga manusia yang nggak punya inisiatif. Diam saja dengan situasi yang normalnya membuat orang lain melakukan sesuatu. Seolah dia nggak akan terdampak oleh situasinya itu.

Kenapa ada orang yang seperti itu? Selain karena nggak terbiasa berinisiatif, mungkin dia cari aman. Inisiatif itu, bagaimanapun, punya konsekuensi. Kalau gagal, mereka bisa dipersalahkan. Kalau berhasil, belum tentu diapresiasi.

Pertimbangan sederhananya, kalau melakukan sesuatu bikin kita berpeluang kena semprot dan kalau nggak melakukannya bakal aman-aman saja, ya ngapain kita ambil risiko dengan sok-sokan inisiatif? Cari penyakit itu namanya.

Ini cara pandang alien, atau penduduk non-bumi, menurut saya. Sebab nenek moyang kita berani berinisiatif melakukan banyak hal untuk bertahan hidup, dan inisiatif mereka itu berhasil. Buktinya, ras manusia survive sampai sekarang.

Cara pandang alien itu, entah bagaimana mulanya, menurun pada sebagian orang. Kita lantas mengenal mereka dengan sebutan pengecut, nggak cuma karena mereka ogah ambil risiko tapi juga karena mereka sudah kalah sebelum naik ring.

Saya bikin tulisan ini bukan karena selalu berani berinisiatif lho, tapi karena butuh meyakinkan diri bahwa berinisiatif melakukan sesuatu itu perlu, dan kadang wajib. Jangan menunggu disuruh atau waktunya habis. Payah itu namanya.

Lagipula, kalau kepentingan kita cari aman, seperti saya bilang di atas, sebenarnya diam dan nggak berinisiatif itu nggak aman-aman banget. Coba deh ingat, betapa banyak cemoohan yang juga dialamatkan pada mereka yang hanya diam.

Keindahan Itu

pexels-photo-1076999.jpeg
Photo by Jeswin Thomas on Pexels.com

Kita tak pernah berjanji untuk datang ke pesta kebun minggu lalu. Aku pun tak pernah berharap menemukan keindahan yang orang-orang ceritakan itu. Semua terjadi begitu saja, tanpa kuduga dan kuramalkan sebelumnya.

Kau adalah kerlip polikromatik di tengah malam-malamku, nyala yang menghangatkan ruang-ruang di hatiku. Kau berpendar tanpa suara, bersinar tanpa menyilaukan mata. Terangmu tak datang sekaligus tapi merambah pelan seperti buaian.

Kesepian tak pernah bosan membekapku dengan teriakan dan sorak-sorai, membuat lagu yang dulu kunyanyikan kini tinggal sayup-sayup bisikan. Suara-suara tak lagi bisa kudengar dan wajah-wajah tak ada lagi yang bisa kukenal.

Tapi, semua berubah saat kau berdiri di pintu itu.

Kau memang hanya diam, tapi diammu menegaskan sebuah kenyataan yang tak terbantahkan. Dan dalam sekejap, gulita di hatiku memudar lalu fajar pun merekah. Apakah kau tahu, selain aku tak ada lagi yang menyadari kehadiranmu?

Assalamualaikum, Zuhda!

man standing facing body of water
Photo by Sindre Strøm on Pexels.com

Kau sehat, Nak? Bagaimana kabar ayah-ibumu? Semoga baik-baik saja. Sudah lama aku tak bertemu mereka, berbincang-bincang, bahkan sekadar bertegur sapa. Untuk saat-saat seperti ini, biasanya aku mengkambinghitamkan jarak. Tapi kali ini, kesibukan agaknya bisa kujadikan alasan.

Sekarang bulan Oktober, awal musim hujan tahun ini. Aku tak tahu, mungkin tak pernah tahu, kapan kau akan membaca suratku ini. Sepuluh, lima belas, atau dua puluh tahun lagi. Yang pasti, ini yang aku ingin kau tahu, aku menulis surat ini setelah teringat tahun-tahun pertama aku mengenal ayahmu, lebih dari sepuluh tahun yang lalu.

Sepuluh tahun bukan waktu yang lama, Nak. Ketika kau beranjak dewasa, tahun demi tahun akan berlalu dengan cepat. Kau yang dulu tak sabar dengan masa kanak-kanakmu akan terkejut melihat perubahan di sekelilingmu. Tapi bagiku, di antara banyak hal yang berubah dalam sepuluh tahun ini, pertemananku dengan ayahmu masih seperti dulu.

Kalau kau pernah bertanya dalam hati, siapa orang yang paling bahagia di dunia ini, akulah orangnya. Kau tahu kenapa? Karena aku, orang dungu yang sombong dan egois ini, pernah mengenal ayahmu. Aku tak perlu ragu mengatakan bahwa masa-masa terbaik dalam hidupku adalah saat berteman dekat dan kulewati bersama ayahmu.

Aku tak sedang berbicara tentang seorang pria yang jenius dan memiliki banyak kelebihan. Tidak, tidak, ayahmu tak sesempurna itu. Aku sering berbincang-bincang dengannya dan, hai, aku bahkan pernah sekelas dengannya! Aku mengerti cara berpikirnya. Aku sering melihatnya berpendapat dan bagaimana ia mempertahankannya.

Kalau kau mencari sosok superhero yang cemerlang dan selalu juara, ayahmu bukan orangnya. Tapi kalau kau mendambakan manusia biasa, yang seakan-akan tak mampu menampilkan dirinya sebagai figur yang pantas dipuja tapi sanggup membuatmu merasa menjadi orang yang paling bahagia di dunia, kau sudah memilikinya.

Ayahmu adalah orang yang istimewa …

Saat kanak-kanak dan remaja, kau mungkin tak menyadari hal ini. Tapi nanti, saat kau cukup usia untuk memahami betapa beruntungnya dirimu memiliki seseorang yang mau mendengar, mengerti, dan menemani saat kau berada dalam masa-masa sulit, kau tak akan berhenti bersyukur memiliki ayah sepertinya. Hidupmu akan terasa cukup, Anakku.

Aku tak sedang membual. Kalau kau menganggapku melebih-lebihkan, tunggu saja sampai kau berjalan di sebuah lorong yang sempit, gelap, dan panjang. Tunggulah sampai kau merasa hidupmu sangat berat dan langkahmu begitu melelahkan; sebuah tangan yang hangat akan menuntunmu, memegang erat bahumu, dan menenangkanmu.

Itu adalah tangan ayahmu.

Ia mungkin sama bingungnya denganmu. Yang pasti, Anakku, ia tak akan meninggalkanmu.

Kami menjalani masa muda bersama-sama. Kami berdiskusi tentang apa saja. Membicarakan keyakinan, membincangkan pemikiran. Mengenang masa silam, menertawakan masa depan. Sesekali, kami juga berkhayal tentang seorang gadis pujaan. Kami melewati hari dengan banyak cerita, kadang dengan kepolosan, juga kebodohan.

Bersama-sama.

Kapan pun, Anakku, kau merasa hidup tak cukup adil padamu, temuilah ayahmu. Cium tangannya, ceritakan semua padanya. Ia akan setia mendengarkan keluh kesah dan kekhawatiranmu. Ia akan ikut merasakan bebanmu. Dan kalau kau tak cukup beruntung, ia juga akan membaca rahasia di balik ucapan dan sikap yang sengaja kau tutup rapat itu.

Ayahmu melihat dengan telinganya dan mendengar dengan matanya. Itu yang membuatnya berbeda.

Jakarta, 29 Oktober 2014

Mengenangmu

photography of a woman holding lights
Photo by Matheus Bertelli on Pexels.com

Aku melihat bayanganmu terpantul di permukaan kolam yang airnya tak pernah tenang. Bola matamu yang bening dan hitam rambutmu yang tertiup angin adalah keindahan yang selalu kunantikan. Keindahan yang tak pernah bisa kumiliki.

Jarak antara kita bagai selat lebar yang memisahkan dua dunia. Kau berdiri di dermaga seberang, dengan singgasanamu yang kau bawa serta dan hulubalang yang selalu setia, sementara aku terduduk sendiri di kursi tua ini, memandangmu dari pantaiku yang sepi.

Nelayan di negeriku telah lama merusak biduk mereka. Orang-orang itu benci masa lalu. “Hidup adalah masa depan, lebih baik kujadikan semua ini kayu bakar,” kata mereka. Kini aku mengerti, betapa waktu tak hanya sanggup mengerdilkan jiwa kita tapi juga membunuhnya.

Malam semakin larut. Lampu kamar yang menyorot tepat di atas ubun-ubunku menjelma keparat yang mengaburkan pandanganku. Sedang lampu kendaraan yang sinarnya menerobos masuk ke dalam kamarku meninggalkan kilau cahaya di titik-titik tempias yang menempel di kaca jendela.

Aku masih ingin bersamamu.

 

Depok, suatu hari di 2013

Ramadan Tanpa Bapak

yellow lantern near body of water during night
Photo by Burak Kebapci on Pexels.com

Ini tahun kesepuluh saya menjalani Ramadan tanpa Bapak.

Saya tak sedang menyesali kepergiannya, tahun-tahun kemarin pun seperti ini. Tapi, entah kenapa malam ini saya merindukan saat-saat puasa bersamanya. Dulu, bahkan dua bulan sebelum Ramadan, satu-dua orang pasti sudah ada yang meminta Bapak mengisi ceramah atau pengajian di tempat mereka.

Baca juga:
Ini Tentang Keluarga Saya
Hari-hari Ini Saya Berharap Banyak pada Allah

Bapak adalah yang paling sibuk di keluarga kami saat bulan puasa. Menjadi imam tarawih, mengajar ngaji, hingga berbuka bersama murid-muridnya. Sepulang dari aktivitasnya itu, kadang hingga lewat tengah malam, tak jarang ia masuk angin. Ibu pun menjadi orang yang paling setia mengoleskan minyak kayu putih di punggungnya.

Saya hanya mengabaikan …

Saat masih di pesantren, setiap pulang ke rumah, saya tak pernah mau duduk bersama murid-murid Bapak untuk mengaji atau sekadar mendengar petuahnya. Saya lebih suka menonton televisi di ruang makan sambil menutup pintu rapat-rapat. Tak ada yang keberatan dengan tingkah saya. “Biarin,” kata Bapak setiap ada yang menegur.

Bapak memang pengertian. Kadang kalau ia sedang ada keperluan, kakak sayalah yang menggantikannya, bukan saya. Sebenarnya bisa saja ia menunjuk saya untuk mengambil alih tugasnya. Tapi seperti saya bilang, ia pengertian. Saya pun lebih memilih nonton film ketimbang menyatu dengan anak-anak di ruang tamu.

Saya hanya mengabaikan …

Kini, setelah sepuluh tahun saya tak melihat agenda kegiatan Bapak terbuka di atas lemari bukunya yang setinggi dada orang dewasa, setelah kitab-kitabnya yang berbaris rapi di dalamnya saya coba baca, dan setelah saya duduk di sini, di tempat yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya, saya sangat merindukannya.

Saya rindu saat berkumpul dengannya untuk menunggu waktu berbuka.
Saya rindu harum sorbannya saat ia hendak berangkat tarawih.
Saya rindu suara salamnya sepulang dari pengajian.

 

Depok, 20 Juli 2012 M/1 Ramadan 1433 H