Ikut Yang Mana?

Ini tulisan nggak penting berikutnya di blog ini. Saya ingin mengingatkan Teman-teman kalau apa yang ingin saya sampaikan di bawah ini adalah bagian dari cara saya untuk menunaikan rutinitas di dunia maya: nyampah. Hehe … Buat yang masih sayang sama kornea matanya, mending stalking IG mantannya saja, ya. Lebih berfaedah.

Banyak orang, termasuk saya, yang pernah membayangkan suatu kebahagiaan dengan mempunyai ini dan itu atau bisa melakukan ini dan itu. Punya apartemen, mobil bagus, traveling ke luar negeri, atau ketemu orang-orang tenar. Tapi, seperti orang lain yang pernah membayangkan kebahagiaan tersebut, pada akhirnya mereka sadar …

… bahwa mereka nggak pernah bisa mewujudkannya.

man young happy smiling
Photo by Stefan Stefancik on Pexels.com

Memang menyenangkan bisa memenuhi segala yang kita inginkan, tapi di balik kemampuan orang lain yang bisa memenuhi keinginannya, ada hal-hal yang harus ia korbankan. Entah keakraban dengan seorang teman, kebersamaan dengan anak-istri, atau paling nggak kepuasan bisa melakukan sesuatu dalam kondisi sedang pas-pasan.

Ada yang bilang kalau mewujudkan kebahagiaan dengan cara memuaskan keinginan-keinginan itu mirip menghapus dahaga dengan mereguk air laut. Bukannya puas, kita malah akan semakin haus. Memuaskan keinginan juga sama. Semakin dimanja dan dituruti, semakin keinginan-keinginan itu ngelunjak, merembet ke mana-mana.

Coba deh ingat-ingat kalau lagi belanja lebaran. Dari rumah, isi kepala kita paling-paling cuman baju dan celana buat Salat Id atau silaturahmi, tapi begitu sampai di Pojok Busana, eh Centro atau apalah, mata kita suuusah minta ampun untuk nggak kepincut sama yang lain-lain. Ya sandal, sepatu, gesper, sempak, kolor, muacem-macem.

Celakanya, selalu ada bisikan di hati kita, bahwa … yup, kita memang butuh semua itu.

Klise kalau ada yang bilang kebahagiaan itu nggak mahal, asal kita bisa qana’ah. Apa boleh buat, menurut saya, itu kuncinya. Orang yang qana’ah bukan hanya mau menerima apa pun yang Allah berikan padanya tapi juga bahagia saat menerimanya. Dia mungkin tahu itu kurang, tapi hatinya terlalu lapang untuk nggak menerimanya.

Dagang es kelapa cuman untung 30 ribu sehari, bahagia. Jual gorengan untungnya cuman bisa buat makan besok, bahagia. Ngojek dapat penumpang seadanya karena musim hujan, bahagia. Mereka itu, orang-orang yang sering kita pandang sebelah mata, terkadang lebih mudah bahagia ketimbang kita yang mungkin bernasib lebih baik.

Ada orang yang bekerja sangat keras, mengorbankan banyak hal demi berburu rupiah. Dengan itu, ia berharap bisa memenuhi kebutuhan keluarganya. Membelikan pakaian, mengajak liburan. Membahagiakan mereka. Ada juga orang yang bekerja sambil tetap melihat batasan. Berapa pun yang didapatkannya, alhamdulillah.

Dan mereka, tanpa menunggu pundi-pundi uangnya meluap, sudah bisa bahagia.

Kita mau ikut yang mana?

Advertisements

Tulisan-tulisan Saya

Saya tahu tulisan-tulisan saya di blog membosankan. Beberapa hari ini saya memikirkan cara agar nggak terus-terusan menyiksa pembaca dengannya. Saya belum menemukan jawaban, to be honest, tapi saya akan mencoba memperbaiki dari gagasan utama.

adult blur computer cup
Photo by Burst on Pexels.com

Selama ini saya terobsesi untuk membuat tulisan baru. Celakanya, ide yang bagus nggak selalu ada ketika saya ingin menulis. Akhirnya ya ide seadanya yang saya garap. Mungkin bukan sesuatu yang buruk, tapi bagaimanapun itu membuat keterampilan kita nggak berkembang.

Saya juga pernah terobsesi dengan jumlah viewer dan like pada tiap tulisan yang saya posting. Tapi, lama-lama saya berpikir. Buat apa? Buat apa mendapatkan viewer dan like banyak, jika itu hanyalah “balas budi” dari beberapa follower yang tulisannya lebih dulu saya baca dan saya like?

Bukan karena mereka benar-benar menyukainya …

Disukai atau nggak itu biasa. Kita nggak bisa mengontrol orang lain untuk suka atau nggak suka sama kita, termasuk sama tulisan kita. Jadi ya, let it be … Nggak usah mencari-cari cara untuk disukai (baca: diberi like atau dipuji) jika memang tulisan kita nggak pantas untuk disukai.

Entah dengan mem-follow sebuah akun, me-like, memberi komentar asal dengan harapan mendapat kunjungan balasan, dan lain-lain.

That’s not my purpose when first time I made this blog. It’s all about happiness, i think; happiness that comes from my ability to release and express my feeling and thought, not happiness that comes from being viewed, read, visited, followed, nor liked.

Saya jadi ingat kata orang-orang tua, bahwa orang yang dipuji itu ada tiga.

Pertama, mereka yang memang pantas dipuji. Ketika mendengar pujian itu, mereka sebaiknya bersyukur pada Yang Mahakuasa. Kedua, mereka yang memang hebat, tapi pujian terhadapnya keterlaluan. Golongan kedua ini perlu meningkatkan ikhtiarnya agar layak menerima pujian itu.

Nah, orang ketiga sebenarnya nggak layak menerima pujian. Kelakuannya seharusnya membuat dia layak mendapat hinaan. Kalau orang tersebut bahagia mendengar pujian yang dia sebenarnya nggak berhak terhadapnya, dia sejatinya orang yang nggak tahu diri.

Mungkin ini klise ya, tapi pujian untuk sebuah perbuatan yang nggak selayaknya dipuji itu hakikatnya adalah hinaan. Kalau seseorang mengatakan bahwa angin yang keluar dari pantat temannya beraroma cocopandan, dia sejatinya nggak sedang memuji, tapi mencaci-maki.

Hanya saja, bukannya marah, kita kadang malah tersipu-sipu dan bangga saat mendengar hinaan itu. Aneh 😀

Manuscript Found in Accra

“Kalah dalam suatu pertempuran atau kehilangan apa yang kita sangka merupakan milik kita akan menyeret pada momen yang penuh kesedihan. Tapi ketika momen itu berlalu, kita akan menemukan kekuatan tersembunyi di dalam diri, sebuah kekuatan yang mengejutkan dan meningkatkan harga diri kita.

couple standing next to each other
Photo by Pixabay on Pexels.com

Kita akan melihat sekeliling dan berkata pada diri sendiri, “Aku selamat.” Kita pun terhibur dengan kata-kata itu.

Hanya mereka yang tak mampu mengenali kekuatannya yang terpendam yang akan berkata, “Aku kalah,” dan bersedih.

Orang lain, meski kalah dan merasa dipermalukan oleh kata-kata mereka yang menang, akan mengizinkan dirinya menitikkan air mata tapi menolak untuk mengasihani diri sendiri. Mereka mengerti bahwa itu hanyalah jeda di tengah pertempuran dan bahwa, untuk sementara, mereka sedang tidak beruntung.

Mereka mendengarkan detak jantungnya sendiri. Sadar sedang khawatir, takut. Akan tetapi, mereka kemudian memperhatikan hidup dan menyadari, di balik ketakutan yang mereka rasakan, keyakinan mereka masih menyala di dalam jiwa, mendorong dirinya untuk terus bergerak ke depan.”

Paulo Coelho, Manuscript Found in Accra, 17-8

Masih Rabun Dekat

Kita akui atau nggak, mencari kekurangan orang lain itu lebih mudah dibanding mencari kekurangan diri sendiri. Mungkin karena itu, kita sering sibuk mengurusi aib mereka ketimbang memikirkan borok kita dan memikirkan cara menyembuhkannya.

woman wearing black coat holding assorted color shopping bags on building
Photo by bruce mars on Pexels.com

Kalau kita amati, orang yang diam belum tentu sudah selesai menunaikan kewajibannya, yaitu meningkatkan imannya atau memperbaiki akhlaknya. Dia diam mungkin karena nggak menemukan sedikit pun kekurangan dalam dirinya. Seakan dirinya sudah sempurna.

Baca juga:
Mengapa Kita Berbeda?
Topeng-topeng yang Menipu

Tapi, orang yang tampak sibuk belum tentu juga sedang memperbaiki diri. Bisa jadi dia malah asyik mencela kekurangan orang lain, atau memancing supaya orang lain bertindak bodoh, agar bisa dia manfaatkan kebodohannya itu untuk menjatuhkan orang tersebut.

Jadi, semua memang serba mungkin, dan karenanya banyak yang nggak mudah kita pastikan, kecuali dua hal: bahwa usia kita semakin berkurang dan kita perlu segera mengalihkan perhatian pada kekurangan yang ada pada diri sendiri.

Rasulullah saw berkali-kali mengajak kita untuk mawas diri. “Haasibuu qobla an tuhaasabuu, hitung-hitunglah kebaikan dan keburukan kalian, sebelum keduanya dihitung oleh Allah,” kata beliau. Maknanya, introspeksilah!

Jangan merasa seakan semua sudah baik-baik saja …

Kita malu sama diri sendiri. Kadang kita merasa sudah lebih baik dari orang lain, merasa lebih saleh, alim, dan dermawan, lalu meletakkan diri di atas mereka, seakan kita otomatis lebih suci, lebih disayang Allah, dan lebih pantas menghuni surga-Nya.

Padahal alasannya simpel: karena sudah berhijab, sudah hijrah (vret!), suka streaming tausiyah, rajin nge-share fitnah tentang para kyai, atau baru sedekah pakaian bekas.

Kesombongan memang nggapleki. Ego (nafs) nggak pernah berhenti menjerumuskan kita ke jurang kehinaan, termasuk dengan mengelabui hati kita dengan membuatnya merasa sudah sempurna. Celakanya, kita menurut saja.

“Man zhonna anna lahu ‘aduwwan a’daa min nafsihi, qolla ma’rifatuhu binafsihi,” begitu kata seorang sufi*. Orang yang mengira dirinya punya musuh yang lebih tangguh ketimbang dirinya (ego atau nafs-nya) sendiri, sejatinya ia tak cukup mengenal dirinya sendiri.

Wallahu a’lam.

 

*Lihat: Muhammad Nawawi bin Umar Al-Bantani Al-Jawi, Nashaihul ‘Ibad, h. 6.

Atas Nama Kepentingan

Nggak ada satu pun makhluk Tuhan yang nggak pernah berubah. Kadang perubahan itu terjadi begitu saja, kadang melalui proses yang berliku. Kadang menyangkut urusan remeh-temeh, kadang berkenaan dengan hal-hal yang sangat prinsipil.

Baca juga:
Teman yang Paling Beruntung
Mengapa Kita Berbeda?

Kata Nabi Muhammad, iman pun begitu. Adakalanya bertambah, lain waktu berkurang; yaziidu wa yanqush. Seseorang mungkin khusyuk bermunajat di malam hari, lalu seperti nggak punya rasa berdosa, menggarong uang rakyat di siang harinya.

man in grey shirt holding opened book looking upward
Photo by Yogendra Singh on Pexels.com

Teman saya yang dulu dikenal sangar dan tukang demo, belakangan menjadi guyonan teman-teman lain di grup Watsapp. Itu karena kebiasaan barunya yang suka menggubah puisi. Ya, puisi. Mungkin itu caranya menumpahkan tekanan batin karena sering ditanya, “Kamu kapan?”.

Teman saya yang lain rajin sekali men-share informasi seputar kegiatan kampusnya. Tentang kapan semester baru dimulai, matakuliah apa yang diampunya, juga judul-judul diktat yang akan ia gunakan untuk mengajar. Teman saya itu memang seorang dosen. Padahal dulu …

Saya nggak tega mau menceritakan semuanya. Tapi, dulu dia memang bukan orang yang sekarang dikenal oleh para mahasiswanya: tukang titip absen, tukang titip nama dalam tugas kelompok, tukang nyontek, dan biang berbagai masalah dengan beberapa dosen.

Perubahan bisa terjadi karena kesadaran seseorang: bahwa ia perlu dan harus berubah. Nggak bisa ditawar. Ada harapan dirinya berhasil meraih sesuatu, mungkin juga kekhawatiran terhadap kondisi tertentu, yang membuatnya nggak boleh “gitu-gitu aja”.

Namun, perubahan juga bisa terjadi tanpa kita sadari. Kita merasa seakan menjalani hari-hari seperti biasa, tapi orang-orang di sekitar kita melihat sebaliknya. “Kamu berubah,” atau “Kamu udah nggak kayak dulu,” adalah ungkapan yang sering kita dengar.

Ingat nggak sama Bule (Gary Iskak), salah satu personel D’Bijis? Setelah band-nya bubar akibat sang vokalis (Bonny, diperankan oleh Darius Sinathrya) overdosis, Bule menjelma Yanti, banci kaleng yang terpaksa “buka lapak” di pinggir jalan. Padahal badannya gede dan penuh tato.

Ketika hijab menjadi tren baru dalam dunia mode, nggak sedikit masyarakat perkotaan yang ikut-ikut mengenakannya. Harga yang mahal dan ketepatan memilih model, warna, dan bahan diabaikan, semua demi bisa tampil seperti hijaber idola mereka di televisi.

Kita juga menyaksikan sejumlah kalangan yang dulu nyinyir terhadap presiden, sekarang mulai melunak, beberapa bahkan berbalik mendukungnya. Nggak perlu menyebutkan nama (banyak soalnya, Sis). Yang pasti, itu wajar belaka, apalagi ini urusan pulitik.

Meski perubahan bisa terjadi secara drastis, nggak ada jaminan itu akan berlangsung dalam waktu yang lama, apalagi selamanya. Seseorang yang kemarin berubah, karena faktor tren busana misalnya, bisa kembali pada keadaan semula, karena faktor yang sama.

Dulu setelah umrah, seorang selebriti mengaku nggak bisa jauh-jauh dari hijab dan busana yang “islami”. Tapi beberapa minggu kemudian, dia pikun dan dengan santai menerima tawaran untuk membintangi iklan sebuah merek shampo. Tanpa hijab, tentu saja.

Tahun lalu, seorang pulitisi tampak setia pada Mas Bowo. Namanya pun masuk dalam calon presiden alternatif 212. Di sana-sini orang menyebutnya “kuda hitam”. Tapi belakangan, ia menyatakan bahwa Mas Joko perlu diberi kesempatan untuk melanjutkan pekerjaannya.

Perubahan apa pun bisa terjadi, bahkan pada diri mereka yang sekarang sangat kita cintai. Bersimpati pada seorang tokoh nggak terlarang, tapi nggak perlu fanatik juga ya, apalagi sampai menyematkan atribut-atribut surgawi padanya: amanah, islami, bla-bla-bla …

Namanya manusia, kapan pun bisa berubah. Siapa sih di kolong langit ini yang nggak punya kepentingan?

Teman yang Paling Beruntung

Setiap orang punya minat, bakat, dan keahlian yang berbeda, kecuali dalam urusan pulitik.

Beberapa tahun terakhir ini, banyak teman sepermainan saya yang tiba-tiba punya minat sama yang namanya pulitik. Mereka jadi sering nonton berita tentang segala gerak-gerik Jokowi atau program debat yang menghadirkan para anggota dewan, apalagi kalau yang hadir sejenis Fadli Zon dan Fahri Hamzah.

pexels-photo-102303.jpeg
Photo by mali maeder on Pexels.com

Bakat juga gitu, banyak teman saya yang ternyata punya bakat yang sama. Saya baru tahu ini. Dulu mereka ngakunya cuma punya bakat main badminton, mendesain logo, benerin laptop, atau meramal. Tapi belakangan saya tahu, mungkin juga baru mereka sadari, bahwa dirinya punya bakat yang lain: ngemeng pulitik.

Yang terakhir nggak kalah ajib: keahlian, khususnya keahlian berkomentar, lebih khusus lagi keahlian berkomentar soal pulitik. Baik yang pro Jokowi maupun yang hidup-mati ikut Prabowo, sama saja. Kesimpangsiuran apa pun, kalau mereka sampai turun tangan dan ikut menjelaskan, akan clear seketika. Selesai.

Baca juga:
Mengamini Harapan
Cuma Ingin Didengar

Kenalan-kenalan saya di Facebook juga emejing. Ada yang ngamukan kalau Habib Rizieq dikritik, ada yang sukanya nyindir-nyindir ulama NU, ada yang selalu nyinyir sama anak-anaknya Jokowi, ada juga yang yakin bahwa solusi problematika Indonesia tercinta saat ini adalah dengan mengguremkan PKS.

Macem-macem. Tapi, di antara status dan komentar teman-teman saya yang sekarang sudah cerdas-cerdas ngemeng pulitik itu, sebuah oase dunia maya muncul tanpa saya duga. Oase itu adalah tulisan-tulisan polos, jujur, alay, dan kadang nggak penting yang dibuat oleh seorang teman yang senang menceritakan pengalaman pribadinya.

Tentang dagangan es kelapanya yang ludes, anaknya yang punya hobi mengoleksi barang bekas, seorang teman yang “mainnya kurang jauh dan pulangnya kurang malam”, dan permintaan maafnya di grup alumni karena nggak bisa lekas nimbrung obrolan teman-temannya, sebab dia baru bisa online … setelah suaminya pulang kerja.

Teman kuliah saya itu, yang sejak dulu memang terlihat sangat bersahaja, ternyata nggak punya handphone. Saya kaget pas tahu itu. Hari gini?! Tapi entah karena apa, hal itu justru membuat saya menganggapnya sebagai orang yang paling beruntung di antara kami-kami yang nggak bisa melewatkan bahkan satu jam pun tanpa gawai.

Di antara milyaran makhluk hidup yang sudah keranjingan Tiktok dan mobile legend, mungkin dia adalah salah satu yang paling stabil emosinya.

Saya lantas membayangkan kesehariannya yang tenang, nggak berisik oleh berita-berita hoax seputar pulitik dan agama. Menyiapkan sarapan untuk sang suami, mengantar buah hatinya ke playgroup, melayani anak-anak yang menyerbu dagangannya, mungkin juga mendaras Al-Quran cukup untuk membantunya melewati hari-hari.

Nggak ada waktu untuk ikut-ikutan perang opini antara pendukung Joko dan Wowo. Emak-emak milenial yang suka kongkow di kantin sekolah anaknya mungkin menganggapnya ketinggalan zaman, nggak up to date, atau apalah yang sebenarnya menunjukkan betapa mereka sedang tertipu oleh bungkus-bungkus dan gaya hidup.

Namun, menurut saya, sangat mungkin teman saya itu woles saja dan justru menikmati keadaannya yang dinyinyirin oleh emak-emak yang hobi meni-pedi itu. “Nggak ngurus!” mungkin begitu komentarnya, sambil melanjutkan kesibukannya menyikat cucian yang sudah ia rendam sejak semalam.

Puisi-puisi Obi

Beberapa orang berubah karena pergaulannya, yang lain karena pendidikannya, bacaannya, pekerjaannya, mungkin juga trauma yang pernah dialaminya, misalnya diduakan atau ditinggal kawin pacar. Manusia memang dinamis, berkat interaksi dengan lingkungannya, dia bisa berubah dan menjadi pribadi yang baru.

pexels-photo-234054.jpeg
Photo by Nitin Dhumal on Pexels.com

Itu biasa saja, normal. Nggak ada orang yang benar-benar original, dalam pengertian bahwa dirinya steril atau terbebas dari pengaruh luar, seakan kepribadiannya saat anak-anak hingga dewasa nggak lain merupakan hasil pergumulan dirinya sendiri, entah dengan apa dan bagaimana caranya.

Jadi, mungkin karena terbatasnya pemahaman terhadap orang lain, kita sering heran dengan perubahan pada diri mereka. Seperti yang terjadi baru-baru ini di grup Watsapp teman kuliah saya, yang hampir semuanya heran dengan perubahan Obi, salah satu teman kami yang dulu terkenal jail.

Obi yang kami kenal adalah seorang mahasiswa salah jurusan. Tul, dia salah kamar saat mendaftar kuliah. Entah bagaimana ceritanya. Jurusan kami saat itu Hukum Perdata Islam, tapi dia seperti nggak menunjukkan minat sedikit pun terhadapnya. Lucunya, dia jalani saja perkuliahan sampai selesai, bahkan sampai lulus.

Ketika sekelas dengannya, kami sering melihatnya kurang serius mengikuti pelajaran. Masuk sekadar mengisi absen dan kalau berpendapat sering absurd. Maka, tentu sebuah fenomena yang ganjil ketika saat ini dia (sangat) rajin (sekali) membuat puisi. Ya, puisi. Sesuatu yang susah payah kami bayangkan menjadi hobinya.

Saya hampir selalu melewatkan karya-karya maestro itu, tapi pernah karena penasaran, akhirnya saya baca juga (selanjutnya tentu saja menyesal). Ini saya copas-kan dari grup ya, selamat meresavi!

Aku ingin bersamamu sepanjang
kehidupan ini
Menunaikan rindu tiap waktu
Tanpa harus memikirkan sepi
Atau mimpi yang harus aku nikmati

Aku ingin tiap hari kau ada di sisi
Di sebelahku tanpa pergi
Membisikkan puisi-puisi
Dari embun dan mentari
Menghirup aroma kopi yang
selalu 
mengucapkan selamat pagi

Aku ingin selalu begini
Dalam bingkisan asmara
Hanya ada dua pasang kata
yang 
menyatu
Aku dan kamu, cinta dan rindu …

“Selesai baca,” komentar salah satu teman saya, “yang terbayang bukan Obi penciptanya tapi Bowo Tiktok.” Hmm … mungkin mereka orang yang sama di dunia yang paralel ini.

Saya sempat japri dengan teman lain yang juga satu grup, Malik, apa kira-kira yang membuat teman yang kami sayangi itu kini menjadi pujangga, yang puisi-puisinya seperti sederet curhatan seleb Tiktok? Kami tentu nggak habis pikir, lebih-lebih ia tampak sangat bergairah men-share-nya di grup Watsapp, tanpa tahu sikon.

Saat Zaenal dan Opik komen-komenan tentang bola, ia menengahi dengan puisinya yang bertabur keluh-kesah urusan cinta. Saat Umi dan Tutik mengenang tahun-tahun pertama kuliah, ia muncul dengan doa-doanya yang dipaksa puitis dan berrima. Grup Watsapp kami memang jadi hidup, karena masterpiece buatan Obi.

Saya lama-lama curiga, mungkin teman kami itu baru terguncang oleh kenyataan yang sulit ia terima, mungkin juga itu caranya mengungkapkan kebingungan dalam menjawab pertanyaan klise, laten, dan menjengkelkan: “Kamu kapan?”. Dalam satu atau dua percakapan dengan saya, masalah itu memang sempat ia singgung.

Bagaimanapun, bagi saya dan teman-teman segrup, ini tetap sebuah misteri.

Saya nggak pernah serius mencari tahu alasan Obi punya kebiasaan baru itu. Puisi-puisinya, sampai tulisan nggak penting ini saya buat, masih terus membanjiri grup kami. Sebagian teman sepertinya tetap mengabaikannya, sementara sebagian yang lain tergerak menanggapinya, sekadar untuk menunjukkan simpati …

… meski sangat mungkin itu hanya pura-pura.

Saya tahu kok kelakuan teman-teman 🙂

Namun, kalau perubahan dalam diri teman kami itu benar-benar karena trauma, sekecil apa pun perhatian akan berarti baginya. Tapi, semua kemungkinan yang kami duga akan buyar jika di balik penampilannya yang sangar (dulu dia gondrong dan suka ikut demo), dia sebenarnya pria yang melankolis, seperti Tukul, eh, Tulus.

Sesuatu yang luput dari perhatian kami selama ini.