Islami?

Bukan tentang benderanya, ya! (Sumber: Kompas.com)

Kemarin saat berangkat kerja saya melintas di sebuah jalan tikus. Di dekat tanah kosong berpagar sebuah pengumuman ditempel. Tulisannya membuat saya terharu: “Yang buang sampah di sini tidak akan selamat dunia-akhirat!”

Di dekat kos lama saya tulisan serupa juga pernah terlihat. Kalau yang kemarin bernada ancaman, yang di dekat kos saya itu lebih mirip sebuah ratapan: “Ya Allah, masukkanlah ke neraka siapa pun yang membuang sampah di sini.”

Baca juga: Hijrah

Tulisan-tulisan itu dibuat dalam konteks menjaga kebersihan lingkungan. Itu jelas. Yang menarik, mengapa orang sampai mengaitkan hal itu dengan Tuhan dan akhirat? Mengaitkannya dengan agama tak masalah, jika bernada positif. Tapi tulisan-tulisan itu?

Apa karena yang punya lahan kosong sudah putus asa, sehingga “menghadirkan” Tuhan mereka anggap bisa membantu? Apalagi kalau yang mereka “hadirkan” di sana adalah gambaran tentang murka Tuhan dan bukan kasih sayangnya?

Oke, tak perlu kita seriusi. Tapi, apa betul ini tak menunjukkan gejala apa pun di masyarakat? Benarkah mereka semakin religius, sebab banyak orang kini berpenampilan islami (?) dan semua yang diberi embel-embel syar’i banyak dicari?

Atau itu fenomena yang bisa membantu kita menjawab: mengapa kini orang-orang senang mempertontonkan identitas dan simbol keagamaannya di ruang publik. Bahwa mereka sedang putus asa? Dari apa?

Impitan ekonomi? Krisis kepribadian? Atau jodoh yang masih anonim? *dhuarrr

Advertisements

Jakarta

2212

Ada satu kota di Indonesia di mana komedi dan tragedi datang silih-berganti. Meramaikan sudut-sudutnya yang sesak. Mengajak siapa pun yang tinggal di dalamnya menangis lalu tertawa.

Dan sebaliknya.

Orang-orang yang berhasil mewujudkan impiannya menyebutnya kota masa depan. Tapi mereka yang berkali-kali dikecewakannya memanggilnya kota tanpa perikemanusiaan.

Kota itu memang sebuah paradoks; memberikan harapan sekaligus menabur ancaman.

Kota itu: Jakarta. Ibukota tercinta.

*Sumber foto: medium.com.

Hijrah

Rasanya tak ada kubangan yang cukup dangkal untuk menggambarkan pemahaman kita tentang agama. Terutama tahun-tahun terakhir ini.

Saya tak paham, sejauh mana pulitik memengaruhi cara kita menghayati agama. Tapi sejak pilpres lalu, banyak hal-hal berbau agama yang menyeruak.

Memenuhi ruang publik. Menjadi polemik.

Dulu kita heboh saat Al-Quran dibacakan dengan langgam Jawa, marah saat Ahok menistakan firman Allah, dan tak terima saat Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dilarang.

Belum lama ini kita mengkritik pelafalan al-Fatihah yang medok dan pembakaran bendera tauhid. Juga bendera ISIS yang entah bagaimana bisa nempel di dinding rumah Habib Rizieq.

Tapi, memang. Semua itu tak akan jadi masalah kalau tak digoreng sebagai tindakan anti-Islam. Oleh pihak-pihak tertentu. Entah orang pulitik, atau orang baik yang ngamukan.

Saya mungkin tak akan menulis ini andai teman-teman saya masih seperti dulu. Lugu dan bodoh. Tak pintar-pintar seperti sekarang.

Apalagi kalau sudah bicara pulitik. Dan Tuhan.

Mereka sekarang juga kagum dengan dirinya. Karena sudah hijrah. Merasa sudah lebih baik. Dulu suka teler, sekarang stop. Dulu pacaran, sekarang putus.

Saya sih senang mereka berubah.

Cuman kadang mereka terlalu bersemangat. Merasa nyaman dengan perubahan yang sudah dilakukan, lalu memandang rendah orang lain.

Kadang saya sampai kesal. Mereka mengaku hijrah tapi merendahkan orang-orang yang menurutnya belum hijrah. Itu hijrah dari mana ke mana?

Abu Yazid al-Busthami pernah suatu saat berjalan di gang sempit. Di tengah gang seekor anjing mendekatinya. Ia pun mengangkat jubahnya, khawatir terkena najis anjing itu.

Saat itulah Allah menurunkan ilham-Nya, sehingga sufi agung itu mengerti kata hati anjing tersebut (atau ini hanya dialog imajiner saja, wallahu a’lam).

Melihat sikap Abu Yazid, anjing itu menggerutu, “Andai mengenai bajumu, najisku ini akan hilang setelah kau membasuhnya dengan tujuh basuhan air dan tanah.

Tapi najis di hatimu yang muncul karena merasa lebih mulia dariku, wahai Abu Yazid, tak akan musnah meski kau basuh dengan air sebanyak tujuh samudera!”

Saya jadi ingat. Dulu iblis diusir dari surga bukan karena bodoh lho! Tapi sombong. Orang yang sombong sulit diapa-apakan. Sebab hatinya tertutup.

Kata Syekh al-Utsaimin, orang bodoh bisa dididik. Tapi orang yang sudah tertutup hatinya, tak ada yang bisa kita lakukan untuk membantunya.

Jadi poin saya, kalau ketaatan yang kita lakukan membuat kita merasa lebih suci dibandingkan orang lain, itu sebenarnya bukan hijrah. Itu hanya sebuah tanda.

Bahwa kita sedang dikadalin syaithon.

Mereka paling jago kalau soal ini. Membuat kita merasa saleh, suci, dekat dengan Allah, lalu meyakinkan bahwa yang kita lakukan itu bukan sebuah tipu daya.

Tapi hijrah.

 

*Sumber foto: pixabay.com

Nyampah

Teman-teman yang baik …

Ini adalah tulisan pertama saya setelah beberapa bulan tidak memposting apa pun di blog ini. Awalnya saya sengaja ngempet menulis. Tapi ternyata keterusan.

Kebetulan pekerjaan saya tiga bulan ini sangat menyita perhatian. Sampai-sampai saya tak punya waktu bahkan untuk ingat blog sendiri.

Tapi, mulai minggu ini saya ingin kembali menulis. Hanya mungkin ada sedikit perubahan. Dalam tema dan cara saya bertutur.

Saat pertama membuat blog ini saya memang ingin menjadikannya ruang belajar. Selain untuk menumpahkan kegelisahan –maksud saya, untuk mengisi waktu luang.

Tapi setelah postingan banyak, saya baru sadar. Selama ini ternyata saya tidak sedang menulis. Tapi nyampah.

Anggap itu olok-olok untuk blog ini. Tapi, itu tak seberapa dibanding kata-kata Mochtar Lubis kepada Pram. Entah berapa puluh tahun yang lalu.

“Kau tak sedang menulis, Pram” bentak Mochtar, “Kau berak!”

Pram marah. Lalu menumpahkan segala daya kreatifnya ke lembar-lembar kertas. Hingga terbitlah Tetralogi Pulau Buru. Yang membuat mata dunia terbelalak.

Seperti Pram sebelum menulis karya besarnya, saya pun punya impian. Mungkin semua orang juga. Bahwa suatu saat akan ada karya bermutu yang saya hasilkan.

Entah kapan …

Charles Dickens sukses sejak usia 24 tahun. Melalui karyanya yang berjudul The Pickwick Papers. Belakangan saat berusia 31 tahun lahir karya-karyanya yang hingga kini masih dibaca, di antaranya A Christmas Carrol, Oliver Twist, dan Great Expectations.

Guy de Mauppasant menulis karya terbesarnya berjudul Boule de Suif saat berumur 30 tahun. Lalu La Parure pada usia 34 tahun. Meski usianya pendek, Mauppasant adalah penulis prolifik. Total 300 cerpen ia tulis sebelum kematiannya di usia 43 tahun.

Leo Tolstoy menjadi terkenal karena karyanya yang berjudul War and Peace. Sebuah novel dengan 580 karakter. Ia menyelesaikan novel tersebut saat berusia 41 tahun. Delapan tahun kemudian novelnya yang tak kalah tenar, Anna Karenina, lahir.

Terakhir Paulo Coelho. Karya perdananya berjudul The Pilgrimage. Ia menulisnya pada usia 39 tahun. Novel selanjutnya berjudul The Alchemist. Pertama terbit pada dekade 80-an, tapi baru menjadi bestseller internasional pada tahun 1994. Saat usianya 47 tahun.

Saya sudah 33 tahun. Dan belum ada tanda-tanda sedang menulis karya yang kelak bisa saya banggakan. Tapi paling tidak saya bisa berandai-andai menjadi “Mochtar Lubis” di satu sisi dan “Pram” di sisi lain. Dengan begitu saya bisa membayangkan menjadi penulis serius.

Sesekali saya menulis, sesekali saya mengkritisi. Sesekali juga saya mencaci-maki karya sendiri. Namanya berandai-andai, apa pun boleh, kan?

Selamat malam!

Ikut Yang Mana?

Ini tulisan nggak penting berikutnya di blog ini. Saya ingin mengingatkan Teman-teman kalau apa yang ingin saya sampaikan di bawah ini adalah bagian dari cara saya untuk menunaikan rutinitas di dunia maya: nyampah. Hehe … Buat yang masih sayang sama kornea matanya, mending stalking IG mantannya saja, ya. Lebih berfaedah.

Banyak orang, termasuk saya, yang pernah membayangkan suatu kebahagiaan dengan mempunyai ini dan itu atau bisa melakukan ini dan itu. Punya apartemen, mobil bagus, traveling ke luar negeri, atau ketemu orang-orang tenar. Tapi, seperti orang lain yang pernah membayangkan kebahagiaan tersebut, pada akhirnya mereka sadar …

… bahwa mereka nggak pernah bisa mewujudkannya.

man young happy smiling
Photo by Stefan Stefancik on Pexels.com

Memang menyenangkan bisa memenuhi segala yang kita inginkan, tapi di balik kemampuan orang lain yang bisa memenuhi keinginannya, ada hal-hal yang harus ia korbankan. Entah keakraban dengan seorang teman, kebersamaan dengan anak-istri, atau paling nggak kepuasan bisa melakukan sesuatu dalam kondisi sedang pas-pasan.

Ada yang bilang kalau mewujudkan kebahagiaan dengan cara memuaskan keinginan-keinginan itu mirip menghapus dahaga dengan mereguk air laut. Bukannya puas, kita malah akan semakin haus. Memuaskan keinginan juga sama. Semakin dimanja dan dituruti, semakin keinginan-keinginan itu ngelunjak, merembet ke mana-mana.

Coba deh ingat-ingat kalau lagi belanja lebaran. Dari rumah, isi kepala kita paling-paling cuman baju dan celana buat Salat Id atau silaturahmi, tapi begitu sampai di Pojok Busana, eh Centro atau apalah, mata kita suuusah minta ampun untuk nggak kepincut sama yang lain-lain. Ya sandal, sepatu, gesper, sempak, kolor, muacem-macem.

Celakanya, selalu ada bisikan di hati kita, bahwa … yup, kita memang butuh semua itu.

Klise kalau ada yang bilang kebahagiaan itu nggak mahal, asal kita bisa qana’ah. Apa boleh buat, menurut saya, itu kuncinya. Orang yang qana’ah bukan hanya mau menerima apa pun yang Allah berikan padanya tapi juga bahagia saat menerimanya. Dia mungkin tahu itu kurang, tapi hatinya terlalu lapang untuk nggak menerimanya.

Dagang es kelapa cuman untung 30 ribu sehari, bahagia. Jual gorengan untungnya cuman bisa buat makan besok, bahagia. Ngojek dapat penumpang seadanya karena musim hujan, bahagia. Mereka itu, orang-orang yang sering kita pandang sebelah mata, terkadang lebih mudah bahagia ketimbang kita yang mungkin bernasib lebih baik.

Ada orang yang bekerja sangat keras, mengorbankan banyak hal demi berburu rupiah. Dengan itu, ia berharap bisa memenuhi kebutuhan keluarganya. Membelikan pakaian, mengajak liburan. Membahagiakan mereka. Ada juga orang yang bekerja sambil tetap melihat batasan. Berapa pun yang didapatkannya, alhamdulillah.

Dan mereka, tanpa menunggu pundi-pundi uangnya meluap, sudah bisa bahagia.

Kita mau ikut yang mana?

Tulisan-tulisan Saya

Saya tahu tulisan-tulisan saya di blog membosankan. Beberapa hari ini saya memikirkan cara agar nggak terus-terusan menyiksa pembaca dengannya. Saya belum menemukan jawaban, to be honest, tapi saya akan mencoba memperbaiki dari gagasan utama.

adult blur computer cup
Photo by Burst on Pexels.com

Selama ini saya terobsesi untuk membuat tulisan baru. Celakanya, ide yang bagus nggak selalu ada ketika saya ingin menulis. Akhirnya ya ide seadanya yang saya garap. Mungkin bukan sesuatu yang buruk, tapi bagaimanapun itu membuat keterampilan kita nggak berkembang.

Saya juga pernah terobsesi dengan jumlah viewer dan like pada tiap tulisan yang saya posting. Tapi, lama-lama saya berpikir. Buat apa? Buat apa mendapatkan viewer dan like banyak, jika itu hanyalah “balas budi” dari beberapa follower yang tulisannya lebih dulu saya baca dan saya like?

Bukan karena mereka benar-benar menyukainya …

Disukai atau nggak itu biasa. Kita nggak bisa mengontrol orang lain untuk suka atau nggak suka sama kita, termasuk sama tulisan kita. Jadi ya, let it be … Nggak usah mencari-cari cara untuk disukai (baca: diberi like atau dipuji) jika memang tulisan kita nggak pantas untuk disukai.

Entah dengan mem-follow sebuah akun, me-like, memberi komentar asal dengan harapan mendapat kunjungan balasan, dan lain-lain.

That’s not my purpose when first time I made this blog. It’s all about happiness, i think; happiness that comes from my ability to release and express my feeling and thought, not happiness that comes from being viewed, read, visited, followed, nor liked.

Saya jadi ingat kata orang-orang tua, bahwa orang yang dipuji itu ada tiga.

Pertama, mereka yang memang pantas dipuji. Ketika mendengar pujian itu, mereka sebaiknya bersyukur pada Yang Mahakuasa. Kedua, mereka yang memang hebat, tapi pujian terhadapnya keterlaluan. Golongan kedua ini perlu meningkatkan ikhtiarnya agar layak menerima pujian itu.

Nah, orang ketiga sebenarnya nggak layak menerima pujian. Kelakuannya seharusnya membuat dia layak mendapat hinaan. Kalau orang tersebut bahagia mendengar pujian yang dia sebenarnya nggak berhak terhadapnya, dia sejatinya orang yang nggak tahu diri.

Mungkin ini klise ya, tapi pujian untuk sebuah perbuatan yang nggak selayaknya dipuji itu hakikatnya adalah hinaan. Kalau seseorang mengatakan bahwa angin yang keluar dari pantat temannya beraroma cocopandan, dia sejatinya nggak sedang memuji, tapi mencaci-maki.

Hanya saja, bukannya marah, kita kadang malah tersipu-sipu dan bangga saat mendengar hinaan itu. Aneh 😀

Manuscript Found in Accra

“Kalah dalam suatu pertempuran atau kehilangan apa yang kita sangka merupakan milik kita akan menyeret pada momen yang penuh kesedihan. Tapi ketika momen itu berlalu, kita akan menemukan kekuatan tersembunyi di dalam diri, sebuah kekuatan yang mengejutkan dan meningkatkan harga diri kita.

couple standing next to each other
Photo by Pixabay on Pexels.com

Kita akan melihat sekeliling dan berkata pada diri sendiri, “Aku selamat.” Kita pun terhibur dengan kata-kata itu.

Hanya mereka yang tak mampu mengenali kekuatannya yang terpendam yang akan berkata, “Aku kalah,” dan bersedih.

Orang lain, meski kalah dan merasa dipermalukan oleh kata-kata mereka yang menang, akan mengizinkan dirinya menitikkan air mata tapi menolak untuk mengasihani diri sendiri. Mereka mengerti bahwa itu hanyalah jeda di tengah pertempuran dan bahwa, untuk sementara, mereka sedang tidak beruntung.

Mereka mendengarkan detak jantungnya sendiri. Sadar sedang khawatir, takut. Akan tetapi, mereka kemudian memperhatikan hidup dan menyadari, di balik ketakutan yang mereka rasakan, keyakinan mereka masih menyala di dalam jiwa, mendorong dirinya untuk terus bergerak ke depan.”

Paulo Coelho, Manuscript Found in Accra, 17-8